WordPress vs Fullstack

WordPress vs Fullstack adalah dua hal yang berbeda. Akan tetapi, keduanya sama-sama istilah yang terdapat dalam website.

Seiring berkembangnya teknologi, masyarakat kini bisa dengan mudah membagikan informasi kepada khalayak. Salah satu yang paling tren adalah melalui website. Di dalamnya termasuk jenis WordPress dan Fullstack.

Melalui platform WordPress vs Fullstack , seseorang bisa membagikan hal apa pun. Misalnya berbagi karya tulis, foto, video, dan lain-lain. 

Antara WordPress vs Fullstack, itu sebenarnya sama saja. Sama-sama termasuk ke dalam jenis website. Namun, beberapa orang mungkin belum atau tidak tahu apa perbedaan antara keduanya. Lantas apakah perbedaan dari WordPress dan Fullstack ? Mari kita cari tahu. 

Jadi, antara WordPress vs Fullstack, WordPress ini bisa dikatakan sebagai platform Content Management System atau CMS yang fungsinya untuk berbagi informasi. Tidak hanya itu, adanya CMS juga bisa membantu seseorang membuat serta merancang konten lainnya. Istilah CMS tersebut juga mungkin lebih familier terdengar dalam perusahaan media massa. Namun, orang-orang di luar itu mungkin juga sudah ada yang mengetahuinya.

Di antara WordPress vs Fullstack tersebut, WordPress dalam website dapat memberikan kemudahan apa yang Anda butuhkan. Di samping itu, penggunaannya pun cukup mudah. Salah satunya, platform ini bisa diinstall secara cuma-cuma. Namun, untuk menggunakannya, Anda harus lebih dulu punya web hosting dan domain. Dalam penggunaannya, ada salah satu aplikasi web yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan WordPress. Itu bernama Laverel. Laverel tersebut berkaitan dengan bahasa pemrograman PHP. Dia adalah satu-satunya framework yang dapat membantu Anda memaksimalkan PHP. Itulah yang digunakan untuk mengembangkan situs web, khususnya pada WordPress.

Selanjutnya antara WordPress vs Fullstack, Full Stack Developer sendiri, itu adalah sebutan bagi seseorang yang memiliki tugas rangkap sebagai back end dan front end developer. Mereka dapat bekerja sama dengan JavaScript, PHP, hingga Java. Selain itu, developer juga bisa mengkonversi desain ke dalam kode pemrograman, seperti HTML. CSS, XML, dan sebagainya. Oleh karena itu, seorang Full Stack perlu paham betul skill-skill yang dibutuhkan. Salah satunya adalah mengenai JavaScript. 

Menurut Stack Overflow 2016 Developer Survey, JavaScript adalah bahasa pemrograman terpopuler di kalangan pengembang. JavaScript ini sering dipadukan dengan HTML. Hasilnya kan membuat penggunaan situs web lebih mudah. Tidak hanya itu, ternyata JavaScript juga begitu berguna untuk membantu seseorang mengelola situs web sehingga bisa menjadi lebih interaktif.

Selain JavaScript, Full Stack Developer juga perlu menguasai HTML serta CSS. Sebab, kemampuan memahami HTML ini berkaitan untuk membangun struktur pada website. Sementara untuk CSS, itu berkaitan dengan desain atau mengatur halaman website agar terlihat lebih menarik. Itulah sedikit gambaran mengenai WordPress vs Fullstack

Apabila Anda ingin tahu lebih dalam untuk mempelajari antara WordPress dan Fullstack, Digipedia adalah solusinya. Perusahaan IT tersebut menerima jasa pembuatan website juga lho!

Leave a comment